Jakarta - Film bergendre horor "Aku Harus Mati" produis Rollink Action, karya Sutradara Hestu Saputra bukan sekedar film horor tapi mengangkat tradisi yang masih hidup di masyarakat hari ini dengan pesan kuat agar hindari gila jabatan, kekayaan dan keinginan validasi diri agar tak terjebak pada pesugihan.

Film yang akan tayang serentak di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia ini menampilkan cerita tiga sahabat yang berusaha mengungkap misteri kematian orang tua salah satu dari mereka.

Tokoh sentral film ini yakni Mala yang diperankan Hana Saraswati bersama dua sahabatnya Tiwi yang dibintangi Amara Sophie dań Nugra oleh Prasetya Agni diplot menjadi memerankan film bergendre horor misteri oleh penulis skenario Aroe Ama.

(Salah satu scene film "Aku Harus Mati" (Photo/Rollink Action))

Irsan Sapta sebagai salah satu produser film "Aku Harus Mati" menjelaskan dalam konferansı pers Gala Premier film tersebut bahwa pilihan membuat film bergendre horor sebagai debutnya berdasarkan hasil penelitian selama tiga tahun.

"Saya meriset dalam tiga tahun terakhir bahwa gendre horor ini sumbangsih penontonnya 60 persen. Jadi dari hal itulah kenaap saya memilih gendre horor, supaya apa yang mau kita sampaikan lebih bisa terserap," kata Irsan.

Film yang mengangkat juga psikologikal horor menceritakan Mala, perempuan muda yang bekerja di sebuah kota dan yang menurut apa yang ditampilkannya di sosial media adalah flexing kesusksesan. Mendukung upaya flexingnya, Mala terjebak pinjaman online (pinjol) padahal ia adalah seorang yatim piatu.

Lari dari kejaran debt colector pinjol, Mala bergegas mencari jejak orang tunnya dan kembali ke panti asuhan di mana dia pernah dibesarka dan bertemu dua sahabatnya Tiwi dań Nugra.

"Ini jadi himbauan juga buat semuanya untuk tidak usahlah butuh validasi, buat apa sih? Yang paling penting kita ketenangan batinnya bukan validasinya," kata Hana pemeran utama film ini.