Jakarta - Bank Indonesia (BI) pada Selasa, 25 Maret 2025 menyampaikan bahwa milai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah ke angka 16.662 untuk kurs spot. 

Nilai tukar ini bahkan lebih rendah dari saat pandemi Covid-19 pada 4 April 2020, yaitu di angka 16.376 per dolar AS.

Dampak Pelemahan Rupiah

Ekonom dari Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Agus Widarjono menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat memberikan pengaruh langsung pada sektor manufaktur.

"Sekitar 60 persen industri manufaktur masih tergantung bahan baku, bahan penolong, serta modal impor dalam proses produksi. Melemahnya rupiah menyebabkan mereka akan kesulitan untuk proses produksi karena bahan bakunya mahal," kata Prof. Agus kepada wartawan secara tertulis.

Sementara menurut Wijayanto Samirin, ekonom senior dari Universitas Paramadina, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berakibat meningkatnya harga pangan.

"Termasuk juga menyebabkan imported food inflation. Indonesia adalah net importer pangan yang besar, (yakni) beras, gula, garam, bawang putih, susu, jagung, gandum, buah-buahan, dan lain-lain. Pelemahan rupiah membuat harga pangan meningkat," katanya.

Pelemahan rupiah menurut Dr. Fadhil Hasan dari Institute For Development of Economics And Finance (INDEF) mengingatkan bahwa pelemahan rupiah akan membuat jumlah utang Indonesia meningkat dan akan berdampak terhadap fiskal.

"Pembayaran utang kita meingkat dan akan berpengaruh terhadap fiskal," katanya  mengenai dampak pelemahan rupiah pada Selasa terhadap perekonomian nasional.