Oleh : Prof. Dr. Syafruddin Karimi, S.E., M.A.*
Perang di Timur Tengah memaksa negara-negara OIC (Organisasi Kerjasama Islam - OKI) menghadapi pertanyaan besar: apakah dunia Islam mampu menyatukan kepentingan ekonomi, energi, dan keuangan syariah di tengah konflik yang terus mengganggu kawasan?
Pertanyaan ini tidak bersifat retoris. Konflik telah menekan jalur perdagangan, menaikkan biaya logistik, mengguncang harga energi, dan memperbesar ketidakpastian bagi sistem keuangan negara-negara Muslim. Jika OKI gagal bertindak sebagai kekuatan kolektif, umat hanya akan menyaksikan setiap negara bergerak sendiri dalam kondisi yang makin rapuh.
Data terbaru menunjukkan bahwa keuangan syariah global sebenarnya memiliki kekuatan besar. Total asetnya pada 2024 telah mencapai US$ 6,0 triliun dengan 2.255 institusi keuangan syariah, dan diproyeksikan naik menjadi US$ 9,719 triliun pada 2029.
Struktur industrinya masih didominasi Islamic banking sebesar US$ 4,318 triliun, diikuti sukuk US$ 1,031 triliun, Islamic funds US$ 308 miliar, dan takaful US$ 136 miliar. Dunia Islam sebenarnya memiliki basis keuangan yang cukup besar untuk membangun daya tahan ekonomi bersama. Persoalannya bukan kekurangan instrumen. Persoalannya terletak pada kepemimpinan dan koordinasi.
Konflik terbaru memperlihatkan betapa besarnya ancaman itu. Keraguan terhadap gencatan senjata dan pembatasan di Selat Hormuz membuat pasar tetap menaruh premi risiko tinggi pada minyak.
Jalur ini biasanya mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global, terutama dari Irak, Saudi Arabia, Kuwait, dan Qatar. Ketika arteri energi ini terganggu, negara-negara OKI pengekspor energi memang berpeluang menikmati harga lebih tinggi.
Akan tetapi, mereka juga menanggung risiko serangan terhadap fasilitas, lonjakan premi asuransi, kenaikan ongkos pelayaran, dan ketidakpastian ekspor. Keuntungan jangka pendek bisa berubah menjadi kerentanan struktural.
Kondisi ini telah terasa pada pasar. Pada 9 April 2026, DFM General turun 1,24 persen, FTSE Nasdaq Dubai UAE 20 turun 1,30 persen, Qatar Main 20 turun 0,36 persen, dan Tadawul All Share turun 0,12 persen.
