Jakarta - Aktivis pro-demokrasi di era 90-an tentu tak asing dengan lagu "Darah Juang" yang selalu hadir di tiap aksi demonstrasi bahkan masih diestafetkan sampai hari ini di kalangan aktivis pembela hak asası manusia (HAM).

Jarang yang tahu siapa pencipta lagu yang telah berhasil membakar semangat juang bahkan sampai berhasil menggulungkan sebuah rezim yang berkuasa puluhan tahun di Indonesia, rezim Orde Baru pada Mei 1998.


Sampai akhirnya sebuah kabar duka yang tersebar di berbagai platform media sosial tentang meninggalnya seseorang bernama John Tobing, pencipta lagu Darah Juang, banyak orang baru tahu mengenai itu.

Terlahir Johnsony Marhasak Lumbantobing, sarjana filsafat dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini lebih dikenal dengan panggilan John Tobing.

Lelaki yang lahir di Binjai, Sumatera Utara pada Desember 1996 dan meninggal dunia di Yogyakarta pada 25 Februari 2026 karena sakit dalam usia 59 tahun.

Ia menciptakan melodi lagu Darah Juang, sementara liriknya diciptakan keroyokan bersama sababat-sahabatnya, namun mereka semua mengenang bahwa John yang paling banyak berkontribusi di lagu tersebut.

“John Tobing hanya meninggalkan satu pesan, yaitu yang ada di lagu Darah Juang itu, yang mengingatkan bahwa sampai saat ini, apa yang dicita-citakan seluruh rakyat Indonesia itu belum tercapai, yaitu rakyat benar-benar secara mutlak berkuasa atas dirinya," kata Web Warouw, salah satu sahabat John yang sama-sama di fakultas filsafat UGM kepada liputan62.com.

John semasa hidup menciptakan sedikitanya 200 lagu, termasuk berkolaborasi dengan Web.

“John Tobing dari awal menjadi mahasiswa sampai akhir hidupnya tetap ingin melihat gerakan mahasiswa membesar, gerakan rakyat membesar,” kata Web mengenang.