Malang - Laga Arema FC dan Malut United pada Jumat, 3 April 2026 berakhir seri 1:1 , namun buntut pertandingan yang berlangsung di Lapangan Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur itu ada dua hal setidaknya, yakni protes terhadap wasit dan ujaran rasis dari suporter kapada kepada pemain.

Rasisme dari penonton di laga Liga 1 ini dialami bek Malut United Yakob Sayuri pada menit ke-35 laga di Lapangan Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur itu yang dikonfirmasi oleh pelatihnya. 

"Sayuri bilang sama saya, "Coach tolong bilang ke...", mungkin pihak Arema gitu ya "Coach tolong dong, saya diteriakin rasis. Saya diteriakin monyet", dia bilang begitu," kata Pelatih Malut United Hendri Susilo usai laga tersebut.

Ini bukan kali pertama pemain bernomor punggung 12 itu mengalami kejadian rasis. Pada 2025 dalam laga Malut United di bulan Mei 2025 di Bandung, Jawa Barat, Yakob dan saudara kembarnya Yance Sayuri yang bernomor punggung 23 juga mengalami perlakuan rasis dari penonton.

Kasus ini mendapat perhatian dari pemerintah, namun masih terjadi lagi dałam kurun maktu kurang dari setahun.

(Pesepakbola kembar Malut United  Yakob Sayuri dengan nomor 12 dan Yance Sayuri dengan nomor 23 (Foto/dok./Malut United))

Pelatih club tuan rumah Arema FC Marcos Santos yakin pelaku ujaran rasis bukan dari suporter mereka.

"Itu harus dilarang jika memang terjadi, , situasi esperti itu tidak boleh ada lagi di sepakbola dunia," katanya.

Menurut Santos, sesaat setelah kejadian ia langsung ke bangku demain tim lawan dan meminta maaf atas kejadian tersebut kepada pemain dan manajemen.